Selama ini, durian sering dijuluki sebagai King of Fruit. Namun, bagi banyak desa di Indonesia, durian bukan sekadar buah musiman yang enak disantap, melainkan simbol kedaulatan ekonomi. Konsep Desa Mandiri Buah Durian kini menjadi tren pemberdayaan ekonomi lokal yang mampu mengubah wajah pedesaan dari kawasan tertinggal menjadi pusat agrowisata yang modern.
Mengapa Durian?
Durian memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dibandingkan komoditas hortikultura lainnya. Dengan pengelolaan yang tepat, satu pohon durian varietas unggul (seperti Musang King, Bawor, atau Hitam) dapat menghasilkan pendapatan jutaan rupiah per tahun.
Membangun desa mandiri berbasis durian berarti mengintegrasikan tiga sektor utama: Pertanian (Hulu), Pengolahan (Hilir), dan Pariwisata (Jasa).
Strategi Membangun Desa Mandiri Durian
Untuk mencapai status "Mandiri", sebuah desa tidak bisa hanya sekadar menanam. Perlu langkah strategis yang terukur:
- Standardisasi Bibit dan Varietas Desa harus menentukan "ikon" mereka. Apakah fokus pada durian lokal unggulan atau varietas introduksi yang bernilai jual tinggi. Penanaman yang seragam memudahkan dalam proses pemasaran dan branding.
- Pemanfaatan Teknologi Pertanian (Smart Farming) Penggunaan sistem irigasi tetes, pemupukan organik terukur, dan teknik pemangkasan modern memastikan pohon berbuah lebih cepat dan berkualitas ekspor.
- Penguatan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) BUMDes berperan sebagai pengumpul (off-taker) hasil panen warga agar harga tidak dipermainkan oleh tengkulak. BUMDes juga bisa mengelola unit pengolahan seperti frozen durian, pancake, atau es krim durian.
- Agrowisata Berbasis Pengalaman Alih-alih hanya menjual buah, desa bisa menjual "pengalaman". Wisatawan datang untuk memetik langsung dari pohon, belajar budidaya, dan menikmati suasana pedesaan yang asri.